Kamis, 26 September 2019

Tidak apa apa

Begini,

Sebetapa berusahanya kita untuk berbuat baik, tidak bisa rasanya memastikan semua orang untuk dapat menangkap niat baik tersebut

Sebetapa berusahanya kita untuk menampilkan perilaku menyenangkan, sulit rasanya memastikan semua orang untuk menerimanya

Akan selalu ada
katanya,
yang mungkin berbeda pendapat
yang mungkin menyalahartikan
yang mungkin melihat dari sisi yang lain
yang mungkin menimbulkan asumsi pribadi
yang mungkin memunculkan persepsi negatif

akan selalu ada katanya

tapi sudahlah

tidak perlu terlalu berlebihan untuk memikirkan
hal yang diluar kuasa kita

yang penting kita dan Tuhan mengerti apa maksud hati
Tidak apa apa
sebuah hal yang wajar bukan?

Sudah tidak apa apa 

Rabu, 18 September 2019

Esensi Kedewasaan

Hari ini aku sadar
esensi terbaik dari kata 'dewasa'
dan 'menerima'

Esensi dari kata 'diam'
dan membiarkan semua 'tanpa penjelasan'

Tanpa bicara
Tanpa kata
Tanpa bersua

Kita sama sama saling paham
saling mengerti
dan tanpa membenci

Tanpa klarifikasi
saling memahami
bahwa memang
kesakitan sementara inilah yang harus dihadapi

Tanpa harus menghaturkan permintaan maaf
kita yakin
masing-masing dari kita
sudah saling mengampuni

Aku tau
Rasanya seperti sembilu

Tapi yakinlah
Tidak sesakit itu

Tidak perlu memberikan pembelaan
Kita sama-sama memiliki porsi kesalahan
Tidak apa-apa
Ini bagian dari proses pendewasaan

Namun satu aku belajar
Ada masalah-masalah yang dapat diselesaikan tanpa penjelasan

Masing-masing kita butuh keheningan
Maka silahkan
Mencari kesenangan
Percaya takdir Tuhan
akan memberikan bahagia kemudian

Pesan ini aku sampaikan
untuk semua khalayak ramai
untuk selalu mengambil pesan
dari masalah peningkat kedewasaan
untuk senantiasa mengelola kesabaran
karena amarah hanya berujung penyesalan

Dari aku yang sedang tersenyum riang
Menanti cerita baik Tuhan




Penanda Manusia


“Kau tahu apa yang menjadi penanda bahwa kita manusia?”
“Apa?”

“Membuat kesalahan”
“Ha?”

“Kita manusia, tidak punya sayap, diberi nafsu dan akal, wajar bukan?”
“Kau ingin membela diri?”

“Bukan itu esensi ku”
“Apa?”

“Kau akan lelah meratapi kesalahan yang telah kau perbuat. Sudahi, bangkit! Jangan terlalu meratap, tidak apa untuk pernah membuat kesalahan, semua manusia pun begitu ”
“Apa yang harus ku lakukan?”

“Memaafkan dirimu untuk pernah berbuat kesalahan”
“Setelah itu?”

“Bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan”
“Lalu?”

“Tetap berbuat baik”
“Kau baik!”

“Tuhanku baik”
“Baik”

“Baiklah”