Sabtu, 29 Agustus 2015

KAKI KURA – KURA






Kura – kura mengecat cangkang rumah nya
Agar jadi paling cantik di seluruh dunia
Di tempat lain tak ada seperti milik nya
Agar senang hati bangga hati nya

Kura – kura meminta tolong
Pada srigala dengan melolong
Pada anjing hutan sambil menggongong
Dan pada kawanan kepik yang seperti kacang polong

Kura – kura mengerang di temukan mati
Tubuh nya bernanah terkena duri
Ia lupa tak lindungi kaki
Terlalu sibuk membentuk citra diri

(Bandung, 26 Agustus 2015)

MENTARI MENANTI






Musim hujan menitik
Bau tanah menelisik
Aku tergelitik
Di mana engkau wahai gadis cantik ?

Ku lari ke taman
Ke sebalik papan
Di atas dipan
Kemana perginya kau gadis pujaan ?

Aku nelangsa
Lakukan apa pun tak bisa
Terhalang sesuatu di luar sana
Kau darimana saja hai gadis luar biasa ?

Ku tunggu kau di sini
Di istana putih yang sangat sepi
Bertukar cerita di temani kopi
Mau kah kau wahai gadis bertopi ?

(Bandung, 26 Agustus 2015)


SEPATU SANG RATU






Tiga bocah di sudut pintu
Terserak di sana sekotak kartu
Lahap melahap kuah kaldu
Sambil bercerita kelakar lucu

Kelakar itu tentang sepasang sepatu
Sepatu kaca milik sang ratu
Di hias indah dengan beludru
Tak pecah walau di hantam kayu

Sang ratu teriak sepatu nya hilang satu
Katanya di curi seorang hantu
Hantu yang sedang menghisap cerutu
Ratu meracau terus menggerutu

Sebelas pangeran yang hobi menari
Ikut menelisik kesana kemari
Sang ratu lupa apa yang seharusnya di cari
Rasa sabar yang tinggi juga kebaikan diri

(Bandung, 26 Agustus 2015)

SEMANGKUK STOBERI




Alkisah ada semangkuk stoberi
Sedang ada rapat sambil bersilang kaki
Terlihat seperti sibuk semedi
Atau malah hanya sekedar parodi

Ketua stoberi sedang teramat gusar
Otaknya kecil mulutnya besar
Terlihat berkilau hanya dari luar
Malaikat di sisinya pun sudah terkapar

Disanjung namun jahatnya teramat
Seringkali mencibir si buah tomat
Pada siapapun tak pernah hormat
Pribadi santun ternyata penjilat
Demi kuasa, apapun ia lumat

Stoberi lupa ia tak punya akar
Mangkuknya tak akan pernah mekar
Bahagianya  tak bisa besar
Baunya pun cepat hilang disebalik pilar

HATI HASANAH TERLIPAT








Hasanah memandang bayangnya di cermin
Disusuri untai rambutnya sambil dipilin
Puji pujanya terdengar sampai ke negri kertin
Hingga air pongahnya menghujani ubin

Hasanah tak lihat hatinya terlipat
Kecil – kecil menjadi segi empat
Mungkin sering disemai kata umpat
Diperbaiki pun tak lagi dapat

Hasanah tak sadar putihnya menjauh
Dia buang bakti orang berjumlah sepuluh
Selaput lemahnya tak mampu luluh
Hobinya memang tak bisa hargai peluh

Hasanah sedih ia sendiri
Takut sekali dimasukkan peti
Pikirnya selalu tentang nanti
Ia lupa hatinya telah mati


Bandung, 23 Agustus 2015


TALI KEKANG KELINCI








Deritan pintu kandang terdengar
Bulu putih kelinci terlihat gusar
Sekujur badan nya memar
Katanya karna telah berbuat onar

Tulang lehernya terjerat tali kekang
Setiap hembus ia mengejang
Ekor dan mata sudah biasa diterjang
Padahal tak sedikitpun ia membangkang

Kuatnya tak akan setara harimau
Liurnya cepat ciut bak asam limau
Batuknya sengau
Tertatih dengan suara parau

Pagi itu si kelinci melemah
Jantungnya dihujam anak panah
Tiba – tiba tercium bau nanah
Akhirnya bersatu ia dengan tanah


Bandung, 23 Agustus 2015