Minggu, 16 Agustus 2015

Bahagia Nanti




Rahul meremas duri mawar
Genggaman nya semakin meregang
Bulir darah merecah diatas tanah
Ia termangu, namun tetap meremas

Peri - peri kecil memutar mengelilingi tangan nya
Mencoba menenangkan dan merubah pikirnya
Namun Rahul bergeming tak mendengar nya
Ia tetap menancapkan duri amblas kedalam daging nya
Ia perih, sakit dan terluka

Tatapan matanya nanar
Memandang ke arah pelangi yang akan memudar
Ia tersenyum menyeringai
"ada saatnya aku melepas luka ini dan berbahagia "

Suaranya mulai serak parau
Langkahnya terseok sudah

Ia tak tahu kapan asa bahagianya datang
Yang ia tahu ia tak boleh berhenti berjuang
Sedalam apapun derita yang menikam
Langkahnya tetap kokoh maju menerjang
Walau ia tak pernah tahu apa yang akan datang menghalang

Yang ia yakin , nanti ia akan bahagia
Walau entah kapan


Bandung, 15 Agustus 2015
18.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar