Hasanah memandang bayangnya di cermin
Disusuri untai rambutnya sambil dipilin
Puji pujanya terdengar sampai ke negri
kertin
Hingga air pongahnya menghujani ubin
Hasanah tak lihat hatinya terlipat
Kecil – kecil menjadi segi empat
Mungkin sering disemai kata umpat
Diperbaiki pun tak lagi dapat
Hasanah tak sadar putihnya menjauh
Dia buang bakti orang berjumlah sepuluh
Selaput lemahnya tak mampu luluh
Hobinya memang tak bisa hargai peluh
Hasanah sedih ia sendiri
Takut sekali dimasukkan peti
Pikirnya selalu tentang nanti
Ia lupa hatinya telah mati
Bandung, 23 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar