Minggu, 28 Juni 2015

Rindu untuk tuan


Dalam senyap, dengung suara seseorang datang tanpa diminta
Dalam lelap, bayang sosok seseorang hadir tanpa mampu dielak
Dalam sesak yang merayap, tawa seseorang timbul menyeruak
Dalam doa, nama seseorang terlontar begitu seringnya

Rindu...
Adakah yang mampu menghalau nya ?
Adakah yang mampu meredakannya ?
Bahkan tanah pun tak kuasa menghapus rindunya pada air hujan yang menghujamnya
Bahkan ulat pun tak kuasa menghapus rindu pada kicau burung yang mematuknya
Bahkan putri pun tak kuasa menghapus rindu pada pangeran yang melukainya

Rindu menetap , 
Tidak pindah seiring hadirnya luka yang disayat
Tidak menguap seiring hadirnya tangis yang ditimbulkan
Tidak hinggap ke tempat lain meski godaan selalu tiba

Namun 
Apa salah , hamba yang hina merindu pada tuan?
Apa tidak tempat hamba yang penuh peluh merindu pada tuan?
Apa nista , hamba yang berkelas rendah merindu pada tuan?
Sehingga tuan begitu angkuh mengabaikan rasa ini ?
Sehingga tuan begitu tega mencabik rasa ini ?
Sehingga tuan begitu puas menghadirkan luka ini?

Sekali lagi,
Apa salah hamba merindu pada tuan ?

Tangerang, 28 juni 2015 08.12 

Senja ku


Senjaku memudar...
Senjaku tercemar...
Ia tak lagi terangi pantai
Ia tak lagi temani surutnya ombak
Ia jatuh , jauh dan menghilang.

Aku tak pernah yakin senjaku lenyap
Ku tau ia hanya sekedar senyap
Aku tak percaya senjaku rusak
Ku tau ia hanya ikuti awan berarak

Senja ...
Ketiadaanmu kurindu
Namun hadirmu melukaiku
Pancar cahyamu ku sembah
Namun mengapa kau hadiahi ku amarah

Kau lihat aku tersenyum di penghujung sore?
Ku nanti kau dalam geming dan sukacita
Namun mengapa kau persembahkan ku sebuah luka?
Luka yang membuat senyum ku sirna


Tangerang , 27 juni 2015 .
11.32