Jumat, 18 September 2020

Hola

Setelah postingan blog kemarin, ternyata saya masih lanjut untuk stop dulu menggunakan media sosial khususnya instagram. Sampai sekarang. Malah ketagihan 😄 

Ceritanya sedang menantang diri sendiri dengan membeli dua buku baru. Baru dibaca setengah haha. Targetnya sih bulan ini selesai. Let's see

Kemarin sempat isi materi tentang memulai usaha untuk pemula ke teman teman PPKS. Entah kenapa setiap ketemu mereka selalu ada suntikan semangat. Apalagi kalau mereka antusias mau belajar. Tetap ceria. Haha. 

Menyerap kebaikan dan hal - hal positif, dan mengesampingkan hal - hal negatif yang tidak bermanfaat

Ohya, ada satu perkataan dari Syaikh Ali Jaber yang saya garis bawahi sebagai pengingat :

"Kemuliaan akhlaq adalah inti dari agama"

Dari perkataan beliau juga lagi-lagi diingatkan untuk tidak memberikan label buruk kepada siapapun, karena bisa jadi dia melakukan ibadah-ibadah dan kebaikan-kebaikan yang tidak kita lihat. Hampir sama ya dengan topik tulisan saya sebelumnya. Karena ya, setiap orang bisa berubah. Fokus saja dengan kebaikan diri sendiri, fokus membersihkan hati sendiri. Ada lagi sebuah perkataan entah dari siapa, "Jika kita menyimpan amarah atau dendam seperti menyimpan api di dalam hati". 

Memang kadang tidak usah berkomentar apa-apa atau diam saja memang lebih baik. 

Kata Syaikh Ali, "Tidak usah marah" "Tidak perlu marah" "Tidak perlu ribut"

Tenang, sabar, berusaha maafkan, berikan senyuman 😄

Ohya beliau juga mengatakan, jangan mudah menerka, jangan mudah menghakimi apalagi berdasarkan cerita dan informasi orang lain, tabayun. Yuk daripada sudah habis-habisan menerka, membenci orang lain berdasarkan cerita orang lain, tabayun, tanya, kalau tidak diam saja sudah hehe 😍

Satu lagi, beliau menyampaikan "Saya lebih baik mengalah, daripada harus bertengkar". Tuh, adem banget. Terserah gosip dan mungkin fitnah yang bertebaran, caci maki, sindiran, ucapan - ucapan buruk, yasudah diamkan saja. Berat sepertinya tapi kalau sudah dilakukan jadi tenang hati. 

Hihi semoga apa yang saya tulis bisa memberikan manfaat khususnya untuk reminder diri saya sendiri, umumnya untuk siapapun yang mampir membaca ini 😉 

Rabu, 26 Agustus 2020

Bimsalabim

 

Setelah beberapa waktu ke belakang memutuskan detox media sosial

Selama kurang lebih dua sampai tiga bulan tidak akses media sosial (setelah sebelumnya me remove sekitar 200 an akun tidak dikenal. Huft pegel juga)

Kali ini, kembali membuka blog dan cek data statistik, oh masih ada yang mampir kesini :D

Puluhan sertifikat seminar, sertifikat kegiatan, dan beberapa sertifikat perlombaan pun terkumpul selama masa detox. Bahkan ada dua atau tiga buku yang rilis berisi karya terpilih yang telah dicetak. Satu masih di penerbit belum diambil dan satu masih dibungkus rapih kiriman penerbit (pura pura lupa dan nggak berani buka haha)

Banyak hal dan kesan yang didapat selama masa detox. Beberapa teman datang untuk bercerita dan berkeluh kesah masalah-masalah yang lumayan rumit. Ada yang bercerita masalah pekerjaan, percintaan, perjodohan atau masalah keluarga. 

Kembali disadarkan bahwa setiap manusia mendapatkan porsi masalah berbeda. Ada yang bisa diselesaikan sendiri, dengan masukan teman maupun membutuhkan bantuan profesional. Iya, beberapa teman yang terlihat memiliki tekanan psikologis saya coba rujuk ke psikolog klinis baik online maupun offline.

Ide-ide juga muncul bersama orang-orang terdekat saat masa detox. Ide untuk pribadi dan untuk masyarakat. Masih ide, realisasinya entah kapan haha

Beberapa destinasi wisata di luar pulau jawa juga telah dikunjungi, menikmati alam, berbincang dengan masyarakat lokal, belanja produk lokal, menikmati kuliner lokal, dan lain sebagainya. Sampai kaki kram :D Ternyata berpergian dan menikmati perjalanan tanpa posting media sosial asik juga. Fresh!

Download puluhan jurnal sains tapi belum dibaca haduh. Order beberapa buku bacaan pun sepertinya belum terbaca semua. Masih ada beberapa list buku yang akan dibeli. Uhuk. Beli dulu ya insyaAllah kapan-kapan dibaca :D

Belajar membuat rilis berita kegiatan, menjadi humas ala ala, padahal selalu degdegan setiap ingin minta koreksi berita karena harus lewat Direktur Jenderal. Fiuhh

Intinya, ada banyak sekali hal hal baik dan postif yang terjadi dan dirasakan selama masa detox. 

Walaupun sempat kaget ketika kembali akses instagram, eh banyak yang menikah dan sudah melahirkan ya ahaha alhamdulillah. Langsung kirim kirim kado online sepertinya ada ya 8 pcs dalam satu bulan :D

Dan ya, tiba-tiba teringat perkataan seorang teman, kita akan tetap terlihat buruk di mata orang yang tidak menyukai kita. Apapun yang kita lakukan.

Jadi tetap mencoba menebarkan hal baik dan positif minimal ke lingkungan sekitar. Mencoba memberikan manfaat walaupun porsinya tidak terlalu banyak. Dan yang pasti Kita tidak menjadi baik dengan menjelekan orang lain. Terkadang kita telah merasa menjadi pribadi yang baik sehingga mampu melihat banyaknya kesalahan-kesalahan yang dimiliki orang lain. Padahal kita pribadi pun tidak tahu, detil perbuatan apa saja yang telah orang lain lakukan. Bisa jadi orang yang kita anggap dan cap sebagai pendosa ulung, memiliki banyak sekali perbuatan baik yang lebih berat yang tidak kita ketahui.

Sekali lagi, kita tidak menjadi baik dengan menjelekan orang lain atau merasa lebih baik dari orang lain. Sahabat nabi saja pernah ditegur ya karena merasa lebih baik dan lebih banyak amalannya dari seorang pendosa yang ingin bertaubat. Hehe 

Bimsalabim, semoga tulisan ini membawa angin segar nan positif untuk diri saya pribadi dan siapapun yang membaca dengan hati yang baik dan positif. 


;)

Jumat, 31 Januari 2020

Ekspektasi Tinggi



Dewasa ini saya mempelajari bahwa tidak ada hal yang benar-benar abadi. Kita semua tidak bisa menggantungkan label dan ekspektasi begitu tinggi terutama terhadap hal-hal yang sifatnya dinamis seperti perilaku dan sikap manusia. Kenapa? Kembali lagi karena memang tidak ada yang abadi. Seseorang yang memiliki sikap baik, santun, lembut, berhati malaikat bisa saja pernah atau sedang melakukan kejahatan atau hal menyakitkan kepada seseorang yang tidak diketahui oleh orang lainnya. Begitupun mereka yang memiliki label buruk, jahat, muka dua, tengil, kasar, mungkin juga melakukan kebaikan-kebaikan yang memang tidak ingin mereka tunjukkan pada segelintir orang.

Banyak dari kita yang melabeli  seseorang lalu terluka dengan ekspektasi sendiri. Mempercayai seseorang dengan begitu tinggi lalu tersakiti dengan kenyataan yang terjadi.  Iya, itulah hidup, menurut saya satu-satunya yang dapat dipercaya dengan level tertinggi adalah Tuhan. Hanya Tuhan. Itulah kiranya saya menghimbau dri sendiri dan siapapun yang membaca tulisan ini untuk tidak menyandarkan diri atau kebahagiaan hati dengan label dan ekspektasi pada orang lain. Iya, menjadi diri sendiri, tulus tidak menjadi-jadi, terbuka tanpa takut dilabeli, dan ya, menyandarkan kebahagiaan dan apapun itu pada diri sendiri.

Ohya satu lagi, setiap hal yang dilakukan seseorang pasti memiliki dasar. Mari coba menangkap hal-hal positif dan merubah persepsi negatif dari sikap seseorang meskipun jika terlihat tidak ada positifnya sama sekali HAHA. Tarik napas.... lepaskan.....Tarik napas....lepaskan.....

Ayo kuatkan diri menjadi pemaaf, bukan hanya untuk orang lain namun juga untuk diri sendiri

Ayo jangan jadi pembenci

Rugi hati J