Senin, 28 September 2015

Kau tempat ku memutih



Saat ledakan  amarah membuncah
Membabat habis segala baik dan ramah
Merajam singkat aliran darah
Menghantam seluruh suka dan ceria

Saat tubuh dililit lelah
Tarikan nafas terus melemah
Peluh kedukaan kian merekah
Melayukan semangat yang tinggal setengah

Akhirnya ku ingat lagi rumah
Sumber cita dan cinta tercurah
Tak pernah enggan ditumpahkan sejuta kisah
Mampu meredakan siksa tangis yang menyesak
Mampu melipur lara dan duka yang menggores

Hanya dengan sekali takbir, Rumahku terbuka
Hanya dalam curahan bisik, Rumahku mendengar
Hanya dari dentuman lutut pada lantainya, Rumahku melihat

Rumah ku yang penuh kasih
Hanya kepada Nya lah, tempatku memutih

Minggu, 06 September 2015

SARAH JANGAN MENYERAH


Mata sarah memerah
Tangisnya menggema saat pecah
Wajahnya menyiratkan suatu amarah
Terlihat tak kuasa dan terlalu lemah

Sarah ingin mengadu
Pada tuan yang tak paham rindu
Tak sadar telah goreskan pilu
Membelah hatinya jadi seribu

Sarah geram
Pada tuan yang tabur lukanya dengan garam
Melukis mimpinya jadi kelam
Selalu menghilang disetiap malam

Sarah tak kuasa menitah
Percaya nya sudah terlanjur patah
Ia tak lagi mampu baca perintah
Karena tuan pergi ke negri antah berantah

Duhai sarah bergaun merah
Jangan lepas bahagiamu dengan gelisah
Mari kembali ke dalam rumah
Yang selalu bisikkan “Sarah jangan menyerah”

(Bandung, 25 Agustus 2015)

ANGGRAINI MENGAPA SENDIRI

Anggraini duduk seorang diri
Dahinya dilukis kata menanti
Ia diam sambil menusuk diri
Tak ada keluh walau sakit nya tak berperi

Anggraini kukuh tak mau pergi
Bersandar pada dinding yang bergerigi
Memandang jauh pada petani pembuat ragi
Tak tahu menunggu sampai kapan lagi

Anggraini tak sempat menangis
Walau ia diperlakukan bengis
Membalut luka pada pelipis
Sambil bertahan untuk tetap skeptis

Anggraini mengapa sendiri ?
Ia tersenyum mengulurkan sari
Anggraini mengapa sendiri ?
Tak ada jawab, hanya siluet bayangan yang jauh pergi


(Bandung, 25 Agustus 2015)

ASA UNTUK ELASA


Lelaki tua mengusap lembut wajah istrinya
Mengirimkan tulus kasih tak ada yang punya
Sabarnya membentang di tiap debur jantungnya
Melumat habis kesal yang tak pernah nampak wujudnya

Lelaki itu tuan segala punya
Hartanya melimpah kaya raya
Burung dan lembu semua miliknya
Namun rindu hanya pada istrinya

Ia serap seluruh desus dan cibir
Hanya raut istri lah yang di izinkan melipir
Tak kan pernah ia tengok dan dengar buah bibir
Karna tawa istrinya yang terus bergulir

“aku telah memilihmu Elasa”
“mari bersama jauhi dosa”
“menggenggam tangan meraih asa”
“bersama menebarnya ke seluruh angkasa”



(Bandung, 25 Agustus 2015)

CINTA EMBUN PADA MALAM



Embun mengulum senyum di sapa malam
Tak pernah di sebut rasa nya yang kelam
Bertindak bak punya hati pualam
Padahal ada rasa tersembunyi yang amat dalam

Malam tak pernah sadar
Bahwa rasa embun tak pernah pudar
Ia tinggalkan embun untuk berputar
Tak lihat rindu nya yang kian terpendar

Kisah sebuah pesan yang terus melambai
Dari embun pada pekat malam yang tinggi semampai
Membiarkan asa buat tubuh nya terburai
Melepas cinta nya yang tak pernah sampai

(Bandung, 25 Agustus 2015)

PENEBAR JANJI


Mengapa di angkat jika di jatuhkan ?
Mengapa di semai jika di layukan ?
Mengapa di tanam jika di matikan ?
Mengapa di kejar jika di lepaskan ?

Wahai kasih penebar janji
Harusnya kau tinggal di balik jeruji
Ikrar tak akan berbuat keji
Sudah berapa peri yang telah kau uji ?

Tidak kah kau lelah ?
Hobi mu membuat celah
Kumpulkan luka di dalam kulah
Membuat yang lain terlihat salah

Lepaskan !
Janji tak akan membuat beban
Lepaskan !
Niscaya kau akan di maafkan


(Bandung, 25 Agustus 2015)

KERTAS USANG



Ia lah selembar kertas
Dari serat kayu jati yang mengeras
Tempat mencurah tanpa ada batas
Dari rasa senang sampai umpatan tak pantas

Disana ku semai rasa ku
Pada setiap kalimat berakhir nama mu
Berharap kau baca surat dari ku
Dan mau datang untuk menyatu

Ia lah sebuah kertas usang
Ku temukan di padang ilalang
Ku cari kemana kau, risau bukan kepalang
Membawa pesan , pada pria yang tak kunjung pulang

(Bandung, 26 Agustus 2015)

DILEMA DELIMA



Sayup angin mengulum senyum di sepenggalan fajar
Membelai mesra helai rambut dengan cahaya terpendar
Menerbangkan asa yang tampak memudar

Alunan lagu nestapa terngiang ke seantero kota
Seakan beriring padu menyaksikan derai pilu sang buah delima
Yang terbujur lemah terisak meratapi sedih nya
Mencoba menghapus rasa dilema

Gemuruh tawa beringin terdengar membahana
Mengolok delima yang mahir sembunyikan luka
Berpura bahagia padahal dusta
Bersikap cinta padahal tak ada

(Bandung, 26 Agustus 2015)

PEMBURU CEMBURU


Peri hutan di tawan pemburu
Berkaus hitam bermantel biru
Membawa senapan yang penuh peluru
Berjaga – jaga dengan nafas memburu

“ Aku hanya cemburu “
Tegas mengucap diri nya dalam pilu
Ternyata nyali nya sebesar kutu
Tak berani sampaikan, hanya bisa melempar batu

Sang pemburu cemburu
Pada peri hutan yang ada di rumah kayu
Yang punya kekasih lebih dari satu
Pupuk rasa rindu menguap menjadi abu


(Bandung, 26 Agustus 2015)