Rabu, 27 Februari 2019

Sudah ya, semuanya akan baik-baik saja


Dalam hidup berdampingan dengan manusia-manusia lain, akan ada interaksi, akan ada komunikasi akan ada jalinan relasi yang tidak sedikit menimbulkan beberapa gesekan yang tak hanya sekedar ilusi. Nyata. Tulisan ini menyambung dari opini saya sebelumnya disini, bahwa manusia setidaknya pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Setiap manusia, semuanya. Saya pernah membaca satu pendapat anonim yang menyatakan bahwa kita seharusnya tidak menilai seseorang, melabeli atau memberi julukan karena ia melakukan kesalahan yang tidak kita lakukan. Karena apa? bisa jadi kita pun melakukan kesalahan yang tidak ia lakukan, dan sama besarnya. Saya setuju, beberapa waktu ke belakang, saya menengok diri saya yang saya rasa belum matang dalam melihat suatu perkara khususnya pada kesalahan orang lain. Melabeli dan mengeralisasikan. Setelah saya dalami, saya mengalami sendiri dan saya belajar tentang ini semua, saya menjadi lebih terbuka dan tidak cepat menjatuhkan label terhadap kesalahan seseorang. Sekali lagi, karena saya pun memiliki kesalahan dan dosa pribadi yang saya tidak tahu besarnya di mata Tuhan, dan saya tidak tahu apakah orang yang melakukan kesalahan tersebut sudah menebus kesalahannya kepada Tuhan. 

Selanjutnya, saya tahu rasanya dirundung perasaan bersalah terhadap kesalahan yang telah kita lakukan, dan satu hal yang menurut saya lebih sulit ketimbang memaafkan kesalahan orang lain yang dilakukan kepada kita, adalah memafkan kesalahan yang pernah kita buat sendiri. Waktu tidak dapat diputar, sekali lagi kita akan lelah sendiri meratapi kesalahan diri setiap hari. Ada hal-hal dalam dunia ini yang tidak bisa kita kontrol sendiri. Pahami. Hal pertama yang harus dilakukan saat menyesali perbuatan dan kesalahan kita baik pada diri sendiri maupun orang lain adalah mengakuinya. Tidak semua orang mampu mengakui kesalahan diri sendiri, kebanyakan malah berlindung dan menunjuk nunjuk kesalahan orang lain yang dirasa lebih besar agar kesalahannya terlindungi. Oke, akui kesalahan tersebut kepada Tuhan dan kepada orang yang mungkin dirugikan. Minta maaf. Minta ampun kepada Tuhan dan minta maaf kepada orang yang bersangkutan. Sekali lagi, meminta maaf bukan karena kesalahan kita lebih besar atau apalah alasannya. Tidak ada salah yang lebih besar atau lebih ringan. Sudah akui saja, sekecil apapun, sebesar apapun.

Selanjutnya, terima resikonya. Terkadang pribahasa 'diam adalah emas' ada benarnya juga. Biarkan seseorang melabeli kita karena kesalahan yang kita lakukan, percuma pula menjelaskan ribuan pernyataan tentang alasan dan sebab terjadinya hal tersebut kepada orang yang hanya ingin mendengarkan sesuatu yang ingin ia dengarkan. Buang-buang tenaga. Tidak apa, biar kamu dan Tuhan yang tahu alasan sebenarnya. Alasan di balik hal-hal tersebut. Terlebih jika bungkam mu mampu menyelamatkan banyak pihak. Tidak apa apa. Kembali lagi, sebetulnya pun kamu sudah mengetahui dan memikirkan resiko dari kesalahan yang akan kamu lakukan bukan ?

Lalu tahap selanjutnya menurut saya adalah terima. Tidak mengungkit-ungkit. Dan berhenti menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan yang kita punya. Terima. Ketika kita masih mengukur besar atau kecil kesalahan kita dibanding yang orang lain lakukan, atau masih terus mengungkit kesalahan orang lain tanpa mau merefleksikan diri dari kesalahan yang kita lakukan, atau menyalahkan orang lain atas persoalan yang dirasakan, berarti kita belum mencapai tahap kedewasaan dan belum mampu mengambil pelajaran. Hal hal yang telah berlalu, telah memberikan pelajaran, dan telah kita akui kesalahannya, sudah simpan saja di belakang. Sudah, selesai.

Dan ya setelah itu semua, ayo ambil pelajaran untuk selanjutnya menjadi petunjuk jalan agar tidak mengulang lagi kesalahan. Sudah, tidak apa apa. Sudah ya, lebih baik pikirkan masa depan, bagaimana kamu bangkit dan belajar dari kesalahan. Tidak apa-apa. Belajar memafkan, semuanya. Sudah ya, semuanya akan baik-baik saja, Mentari :)

Selamat pagi, selamat mengawali hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar